Selasa, 21 Agustus 2012

Menjadikan musibah menjadi rahmat

republika.co.id
Ketika kita mengalami musibah, ada beberapa sikap dan perbuatan yang bisa dilakukan agar beban yang berat terasa ringan, agar musibah menjadi rahmat. Sikap dan perrbuatan tersbut antara lain:

Pertama, apabila ditimpa musibah hendaklah kita mengucapkan (dengan konsekuen dan mengamalkan maknanya):
Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un ”
Artinya : sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepa-Nyalah kami dikembalikan.
Ucapan “inna lillahi” (sesungguhnya kami ini milik allah), mengandung pengertian bahwa diri kita sendiri, keluarga, dan harta kita pada hakikatnya adalah milik Allah.
Adapan Allah jadikan hal itu semua dimiliki oleh manusia sebagai suatu pinjaman, sebagai suatu amanat. Sebagai seorang muslim kita harus ikhlas dan ridha apabila keluarga kita di panggil oleh pemiliknya yang hakiki. Begitu juga jika kita kehilangan harta benda kita, kita harus ridha kepada Allah, tidak berburuk sangka kepada-Nya. Kita mengucapkan juga “ wa inna ilaihi raji'un “ ( dan sesungguhnya kepada-Nya kami dikembalikan). Sesungguhnya sewaktu kita lahir, kita tidak punya apa-apa. Setelah kita meninggal dunia nanti, kita pun tidak membawa apa-apa dari harta kita. Semuanya kita tinggalkan, yang kita bawa adalah iman dan amal shalih. Sesungguhnya tempat kembalinya seorang hamba adalah kepada Allah.

Kedua, hendaklah kita yakin akan takdir Allah, baik dan buruknya. Ini adalah penting sekali bagi seorang hamba yang ditimpa musibah. Ketika dia yakin, insya Allah musibah itu akan terasa ringan bagi mereka.
Allah berfirman yang artinya:
“ Tiada suatu bencana pun yang menimpa dibumi (dan) tidak pula (pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab) Lauh Mahfuzh (sebelum kami menciptakannya). Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid: 22-23)

Ketiga, hendaklah kita bersyukur kepada Allah bahwa musibah yang menimpa kita ini tidaklah lebih besar. Allah maha berkuasa atas segala sesuatu. Jika Allah menghendaki menimpakan bencana dan musibah yang lebih dahsyat daripada yang kita alami ini, amatlah mudah bagi Allah.

Keempat, ketika tertimpa musibah hendaklah kita meneladani dan melihat orang lain yang tertimpa musibah seperti kita sehigga terasa ringan bagi kita. Al-Imam Ibnul Qayyim mengatakan: “Sesungguhnya kalau manusia memeriksa seluruh penduduk dunia, yang dia lihat adalah orang-orang yang tertimpa musibah. Berpaling kekanan dan kekiri tidaklah terlepas dari orang-orang yang tertimpa musibah.”

Kelima, keluh kesah dan menggerutu atas musibah yang menimpa kita tidak menghilangkan musibah, bahkan akan menambah musibah menjadi lebih berat.

Keenam, kita harus yakin bahwa jika kita sabar dan ridha atas musibah yang datang, Allah akan memberikan kenikmatan, keberkahan, kelezatan, kesenangan, dan kebaikan yang berlipat-lipat besarnya. Bahakan, juga musibah yang menimpa kita ini dapat menghapuskan dosa-dosa dan akan menyucikan jiwa-jiwa kita.

Ketujuh, kita mengharap ganti dari Allah atas musibah yang menimpa kita. Baik ganti di dunia maupun di akhirat.

Kedelapan, orang yang terkena musibah menjadikannya ingat kelalaiannya selama ini. AHl-Imam Ibnul Qayyim mengatakan: “Kalau tidak karena cobaan dan musibah dunia, niscaya mnusia terkena penyakit ujub, bangga, sombong, dan kekerasan hati. Padahal, sifat-sifat ini merupakan kehancuran baginya di dunia maupun di akhirat. Di antara rahmat Allah kadang-kadang manusia tertimpa musibah yang menjadi pelindung baginya dari penyakit hati dan menjaga kebersihan ubudiyahnya. Mahasuci Allah yang merahmati manusia di dunia dengan musibah dan ujian.”

Sumber: Buku Hikmah Dibalik Musibah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar