![]() |
| republika.co.id |
Pertama, apabila ditimpa musibah
hendaklah kita mengucapkan (dengan konsekuen dan mengamalkan
maknanya):
“ Inna lillahi wa inna ilaihi
raji'un ”
Artinya : sesungguhnya kami adalah
milik Allah dan kepa-Nyalah kami dikembalikan.
Ucapan
“inna lillahi” (sesungguhnya
kami ini milik allah), mengandung pengertian bahwa diri kita sendiri,
keluarga, dan harta kita pada hakikatnya adalah milik Allah.
Adapan Allah jadikan hal itu semua dimiliki oleh manusia sebagai suatu pinjaman, sebagai suatu amanat. Sebagai seorang muslim kita harus ikhlas dan ridha apabila keluarga kita di panggil oleh pemiliknya yang hakiki. Begitu juga jika kita kehilangan harta benda kita, kita harus ridha kepada Allah, tidak berburuk sangka kepada-Nya. Kita mengucapkan juga “ wa inna ilaihi raji'un “ ( dan sesungguhnya kepada-Nya kami dikembalikan). Sesungguhnya sewaktu kita lahir, kita tidak punya apa-apa. Setelah kita meninggal dunia nanti, kita pun tidak membawa apa-apa dari harta kita. Semuanya kita tinggalkan, yang kita bawa adalah iman dan amal shalih. Sesungguhnya tempat kembalinya seorang hamba adalah kepada Allah.
Adapan Allah jadikan hal itu semua dimiliki oleh manusia sebagai suatu pinjaman, sebagai suatu amanat. Sebagai seorang muslim kita harus ikhlas dan ridha apabila keluarga kita di panggil oleh pemiliknya yang hakiki. Begitu juga jika kita kehilangan harta benda kita, kita harus ridha kepada Allah, tidak berburuk sangka kepada-Nya. Kita mengucapkan juga “ wa inna ilaihi raji'un “ ( dan sesungguhnya kepada-Nya kami dikembalikan). Sesungguhnya sewaktu kita lahir, kita tidak punya apa-apa. Setelah kita meninggal dunia nanti, kita pun tidak membawa apa-apa dari harta kita. Semuanya kita tinggalkan, yang kita bawa adalah iman dan amal shalih. Sesungguhnya tempat kembalinya seorang hamba adalah kepada Allah.
Kedua,
hendaklah kita yakin akan takdir Allah, baik dan buruknya. Ini adalah
penting sekali bagi seorang hamba yang ditimpa musibah. Ketika dia
yakin, insya Allah musibah itu akan terasa ringan bagi mereka.
Allah berfirman
yang artinya:
“ Tiada suatu
bencana pun yang menimpa dibumi (dan) tidak pula (pada dirimu sendiri
melainkan telah tertulis dalam kitab) Lauh Mahfuzh (sebelum kami
menciptakannya). Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi
Allah.
(Kami jelaskan yang
demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput
dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang
diberikan-Nya kepadamu dan Allah tidak menyukai setiap orang yang
sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid: 22-23)
Ketiga,
hendaklah kita bersyukur kepada Allah bahwa musibah yang menimpa kita
ini tidaklah lebih besar. Allah maha berkuasa atas segala sesuatu.
Jika Allah menghendaki menimpakan bencana dan musibah yang lebih
dahsyat daripada yang kita alami ini, amatlah mudah bagi Allah.
Keempat, ketika
tertimpa musibah hendaklah kita meneladani dan melihat orang lain
yang tertimpa musibah seperti kita sehigga terasa ringan bagi kita.
Al-Imam Ibnul Qayyim mengatakan: “Sesungguhnya
kalau manusia memeriksa seluruh penduduk dunia, yang dia lihat adalah
orang-orang yang tertimpa musibah. Berpaling kekanan dan kekiri
tidaklah terlepas dari orang-orang yang tertimpa musibah.”
Kelima, keluh
kesah dan menggerutu atas musibah yang menimpa kita tidak
menghilangkan musibah, bahkan akan menambah musibah menjadi lebih
berat.
Keenam, kita
harus yakin bahwa jika kita sabar dan ridha atas musibah yang datang,
Allah akan memberikan kenikmatan, keberkahan, kelezatan, kesenangan,
dan kebaikan yang berlipat-lipat besarnya. Bahakan, juga musibah yang
menimpa kita ini dapat menghapuskan dosa-dosa dan akan menyucikan
jiwa-jiwa kita.
Ketujuh, kita
mengharap ganti dari Allah atas musibah yang menimpa kita. Baik ganti
di dunia maupun di akhirat.
Kedelapan, orang
yang terkena musibah menjadikannya ingat kelalaiannya selama ini.
AHl-Imam Ibnul Qayyim mengatakan: “Kalau
tidak karena cobaan dan musibah dunia, niscaya mnusia terkena
penyakit ujub, bangga, sombong, dan kekerasan hati. Padahal,
sifat-sifat ini merupakan kehancuran baginya di dunia
maupun di akhirat. Di antara
rahmat Allah kadang-kadang manusia tertimpa musibah yang menjadi
pelindung baginya dari penyakit hati dan menjaga kebersihan
ubudiyahnya. Mahasuci Allah yang merahmati manusia di dunia dengan
musibah dan ujian.”
Sumber: Buku
Hikmah Dibalik Musibah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar