Selasa, 21 Agustus 2012

Keluh Kesah


bluehorn.blogspot.com
Hampir semua orang merasa frustasi menghadapi bencana. Mereka berputus asa, bersedih berkepanjangan, dan berkeluh kesah. Bahkan, mungkin ada yang menganggap bencana sebagai bentuk ketidakadilan dari Tuhan. Lalu, mereka memilih jalan pintas untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri. 

Padahal, memilih cara apa pun, toh bencana telah terjadi. Bersikap sedih, berkeluh kesah, atau berputus asa, tidak akan mengubah keadaan menjadi lebih baik. Sebagaimana firman Allah, “.... Sama saja bagi kita, mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri.” (QS. Ibrahim 14: 21).

Bencana atau musibah yang menimpa orang-orang beriman merupakan bentuk kaasih sayang Allah Swt. Baik berupa bencana alam, keterpurukan ekonomi, kecelakaan, dan lain-lain. Dengan bencana itulah, Allah Swt. Sesungguhnya ingin menegur orang-orang yang beriman agar memperbaiki keimanan dan ibadahnya. Agar orang-orang yang beriman tidak terjerumus dalam kesesatan. Maka, selayaknya kita menyikapi bencana tidak dengan keluh kesah apalagi menyalahkan ketentuan Allah.

“ Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat.” (QS. Al-Ma'arij 70: 19-22).

Padahal, sebagai seorang muslim. Sifat seperti itu tidak perlu ada karena dalam ayat tersebut terdapat pengecualian, yaitu orang-orang yang shalat akan terhindar dari sifat keluh kesah. Jika shalat didirikan, tapi sifat buruk itu terus melekat, hendaklah seorang muslim memperbaiki kekhusyukan salatnya.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar