![]() |
| bluehorn.blogspot.com |
Hampir semua orang merasa frustasi
menghadapi bencana. Mereka berputus asa, bersedih berkepanjangan, dan
berkeluh kesah. Bahkan, mungkin ada yang menganggap bencana sebagai
bentuk ketidakadilan dari Tuhan. Lalu, mereka memilih jalan pintas
untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri.
Padahal, memilih cara apa
pun, toh bencana telah terjadi. Bersikap sedih, berkeluh kesah, atau
berputus asa, tidak akan mengubah keadaan menjadi lebih baik.
Sebagaimana firman Allah, “.... Sama saja bagi kita, mengeluh
ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk
melarikan diri.” (QS. Ibrahim 14: 21).
Bencana atau musibah yang menimpa
orang-orang beriman merupakan bentuk kaasih sayang Allah Swt. Baik
berupa bencana alam, keterpurukan ekonomi, kecelakaan, dan lain-lain.
Dengan bencana itulah, Allah Swt. Sesungguhnya ingin menegur
orang-orang yang beriman agar memperbaiki keimanan dan ibadahnya.
Agar orang-orang yang beriman tidak terjerumus dalam kesesatan. Maka,
selayaknya kita menyikapi bencana tidak dengan keluh kesah apalagi
menyalahkan ketentuan Allah.
“ Sesungguhnya manusia diciptakan
bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia
berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir,
kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat.” (QS. Al-Ma'arij 70:
19-22).
Padahal, sebagai seorang muslim. Sifat
seperti itu tidak perlu ada karena dalam ayat tersebut terdapat
pengecualian, yaitu orang-orang yang shalat akan terhindar dari sifat
keluh kesah. Jika shalat didirikan, tapi sifat buruk itu terus
melekat, hendaklah seorang muslim memperbaiki kekhusyukan salatnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar